Festival berbasis komunitas sering menjadi pilihan ketika sebuah kota ingin memiliki acara yang tumbuh dari warganya. Model ini dapat membangun rasa memiliki dan mempertemukan banyak orang dengan minat yang sama. Namun, community based festival bukan satu-satunya bentuk event yang bisa dikembangkan.
Setiap kota memiliki karakter, kebiasaan, daya beli, dan potensi yang berbeda. Karena itu, membuat event di Second City sebaiknya tidak dimulai dengan meniru skala festival di kota besar. Pertanyaan yang lebih berguna adalah: pengalaman seperti apa yang relevan bagi warga setempat, dapat dijalankan secara berkelanjutan, dan memberi dampak bagi pihak yang terlibat?
Relevan lebih penting daripada ramai
Jumlah pengunjung memang mudah terlihat, tetapi keramaian saja belum tentu menandakan sebuah event berhasil. Acara yang tepat perlu terhubung dengan komunitas dan konteks lokalnya. Ia dapat mengangkat kebiasaan, minat, cerita, atau potensi yang sudah ada di daerah tersebut.
Salah satu opsinya adalah night market tematik. Bukan sekadar deretan stan makanan, acara ini dapat dirancang dengan tema yang jelas, seperti kuliner lokal, produk kreatif, atau suasana tertentu. Tema membantu pengunjung memahami alasan untuk datang, sementara pelaku usaha memperoleh ruang untuk memperkenalkan produk mereka.
Pilihan lain adalah pengalaman seni dan budaya yang imersif. Seni, musik, tradisi, dan cerita lokal dapat disajikan dengan cara yang mengajak pengunjung terlibat. Tujuannya bukan hanya menonton pertunjukan, melainkan merasakan suasana dan memahami kisah di baliknya.
Ada pula nonton bareng olahraga dengan hiburan pendukung. Pertandingan dapat menjadi daya tarik utama, lalu dilengkapi aktivitas yang membuat orang nyaman berkumpul sebelum dan sesudah acara. Format ini bisa lebih terarah daripada membuat festival besar dengan terlalu banyak elemen sekaligus.
Susun pendapatan dari beberapa sumber
Event yang hanya mengandalkan penjualan tiket dan sponsor akan rentan ketika salah satu sumber pendapatan tidak tercapai. Karena itu, perencanaan perlu mempertimbangkan beberapa sumber pemasukan yang saling mendukung.
Kerja sama dengan brand, misalnya, bisa dirancang sebagai aktivasi yang memberi pengalaman kepada pengunjung, bukan sekadar penempatan logo. Pendapatan dari tenant dapat menggunakan skema bagi hasil yang sesuai dengan kondisi acara. Pengelolaan makanan dan minuman juga perlu diperhitungkan agar kualitas layanan tetap baik dan biaya operasional terkendali.
Jika formatnya memiliki potensi untuk diadakan kembali, penyelenggara dapat mengembangkan identitas atau intellectual property event. Identitas yang kuat membantu acara dikenali dari satu edisi ke edisi berikutnya dan membuka kemungkinan kolaborasi atau lisensi. Ini tentu memerlukan konsep yang konsisten dan pengalaman yang memang ingin diikuti kembali oleh audiens.
Kecilkan skala, kuatkan nilai
Skala yang lebih kecil bukan berarti ambisinya harus rendah. Justru, membatasi kapasitas dapat membantu penyelenggara menjaga kualitas pengalaman, mengelola biaya, dan memberi perhatian lebih kepada detail.
Event yang padat oleh pengalaman dengan audiens yang terlibat, komunitas yang terhubung, serta pelaksanaan yang rapi dapat terasa lebih bermakna daripada acara besar yang tidak punya fokus jelas. Perhatian bisa diarahkan pada alur pengunjung, kualitas program, kenyamanan, interaksi, dan hal-hal kecil yang membuat orang ingin bercerita setelah acara selesai.
Pada akhirnya, merancang event di Second City bukan soal membuat panggung sebesar mungkin. Ini soal menemukan format yang cocok untuk kota tersebut, membangun model yang dapat bertahan, dan menyajikan pengalaman yang punya alasan kuat untuk hadir. Event yang relevan dapat tumbuh dari skala yang realistis, lalu berkembang seiring kepercayaan audiens dan mitra.
